Abstrak Artikel
Abstract Lembata dikenal pula dengan sebutan Pulau Paus karena masyarakat Lembata, khususnya masyarakat Lamalera melakukan perburuan paus jenis paus sperma (Physeter macrocephalus) secara tradisional sejak abad 17 untuk dikonsumsi, dijual secara barter untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan merupakan satu satu tradisi budaya. Perkembangan zaman sekarang telah ada kemudahan menangkap jenis-jenis ikan yang lain serta pergeseran selera mengonsumsi ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat minat konsumsi daging paus di kalangan masyarakat Lembata, dari penduduk usia 15 tahun hingga usia 70 tahun. Metode penelitian yaitu survei dengan menggunakan angket sebagai sarana penggalangan data kepada responden. Pertanyaan kepada responden dikelompokan atas tiga bagian untuk memperoleh pendapat responden yakni suka atau tidak suka terhadap: (1). Daging paus, (2) Bau daging paus, (3) Penangkapan paus dibandingkan dengan jenis ikan yang lain. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu sebanyak 326 responden memberikan pendapat. Sebanyak 75.45% dari total responden yang menyatakan suka makan daging paus, 44.17% yang suka dengan bau daging paus, dan 73.62% yang suka penangkapan paus sebagai tradisi. Dari total responden tersebut, terdapat 235 responden yang berada dalam rentang usia 15 sampai 40 tahun yang tergolong usia muda. Khusus untuk responden golongan usia muda, sebanyak 172 orang (73.19%) yang suka makan daging paus, 43.40% tidak menyukai bau daging paus, dan 72.34% suka penangkapan paus sebagai tradisi. Disimpulkan bahwa mayoritas responden suka makan daging paus dan suka paus ditangkap karena tradisi, namun hanya sedikit responden yang suka bau daging paus. Kata kunci: daging paus, minat, lembata
Pratinjau PDF
Pastikan PyMuPDF terpasang lalu coba muat ulang.